Gagal ginjal dapat terjadi ketika ginjal kehilangan kemampuan untuk menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah secara optimal. Kondisi ini bisa berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun atau muncul secara mendadak akibat penyakit maupun gangguan tertentu. Karena gejala awalnya sering tidak terlihat, banyak orang baru menyadari masalah ginjal ketika kondisinya sudah cukup serius.
Ginjal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan, mengatur kadar mineral, membantu mengontrol tekanan darah, dan mendukung produksi sel darah merah. Ketika fungsi organ ini menurun, berbagai bagian tubuh dapat mengalami dampaknya.
Lantas, gagal ginjal disebabkan oleh apa? Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, mulai dari diabetes hingga kebiasaan sehari-hari yang kurang mendukung kesehatan.
Apa Penyebab Gagal Ginjal?
1. Diabetes yang Tidak Terkontrol
Diabetes menjadi salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Akibatnya, kemampuan ginjal untuk menyaring darah perlahan menurun.
Pada tahap awal, kerusakan ginjal akibat diabetes mungkin tidak menimbulkan keluhan. Namun, seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
Orang yang memiliki diabetes perlu memantau kadar gula darah secara rutin. Pemeriksaan urine untuk melihat albumin serta tes darah untuk mengukur fungsi ginjal juga membantu mendeteksi gangguan lebih awal.
2. Tekanan Darah Tinggi
Tekanan yang terus meningkat membuat pembuluh darah di organ tersebut mengalami beban berlebih sehingga kemampuan penyaringan darah dapat menurun.
Sebaliknya, gangguan ginjal juga dapat memperburuk tekanan darah. Kedua kondisi ini bisa membentuk lingkaran masalah jika seseorang tidak mengelolanya dengan baik.
Untuk mengurangi risikonya, periksa tekanan darah secara berkala, batasi konsumsi garam, lakukan aktivitas fisik, dan ikuti pengobatan sesuai anjuran dokter.
3. Kekurangan Cairan yang Berat
Tubuh membutuhkan cairan yang cukup agar aliran darah menuju ginjal tetap memadai. Dehidrasi berat akibat muntah, diare, demam, atau kurang minum dapat mengurangi aliran darah ke ginjal dan memicu cedera ginjal akut.
Jika seseorang segera mendapat penanganan, fungsi ginjal mungkin dapat pulih. Namun, dehidrasi berat yang berlangsung lama atau terjadi bersamaan dengan kondisi medis lain bisa menimbulkan komplikasi serius.
Kebutuhan cairan setiap orang berbeda. Karena itu, jangan memaksakan minum dalam jumlah berlebihan, terutama jika dokter telah membatasi asupan cairan akibat penyakit jantung atau ginjal.
4. Penggunaan Obat Tertentu
Beberapa obat dapat mengganggu fungsi ginjal, terutama jika seseorang menggunakannya dalam dosis tinggi, untuk waktu lama, atau tanpa pengawasan medis. Contohnya, obat antinyeri golongan antiinflamasi nonsteroid atau OAINS, seperti ibuprofen dan naproksen, dapat meningkatkan risiko cedera ginjal pada orang tertentu.
Risiko tersebut lebih besar pada orang yang mengalami dehidrasi, memiliki penyakit ginjal, atau menggunakan obat lain yang memengaruhi fungsi ginjal.
Selain itu, beberapa antibiotik dan obat tertentu juga membutuhkan penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal. Oleh karena itu, konsultasikan penggunaan obat kepada dokter atau apoteker, terutama jika memiliki penyakit kronis. Jangan menghentikan obat resep tanpa arahan tenaga medis.
5. Batu Ginjal dan Saluran Kemih yang Tersumbat
Batu ginjal dapat menghambat aliran urine ketika batu menyumbat saluran kemih. Jika sumbatan berlangsung lama, tekanan di dalam ginjal bisa meningkat dan merusak jaringan organ tersebut.
Pembesaran prostat, tumor, atau gangguan saluran kemih lainnya juga dapat menyebabkan sumbatan. Risiko kerusakan ginjal meningkat jika sumbatan tidak segera mendapat penanganan.
Gejala yang mungkin muncul meliputi nyeri hebat di pinggang, darah dalam urine, kesulitan buang air kecil, atau perubahan jumlah urine. Jika gejala tersebut disertai demam atau menggigil, segera cari pertolongan medis karena kondisi itu dapat menandakan infeksi serius.
6. Penyakit Ginjal dan Faktor Keturunan
Beberapa penyakit dapat menyerang jaringan ginjal secara langsung. Contohnya, glomerulonefritis menyebabkan peradangan pada bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah. Penyakit autoimun tertentu juga dapat merusak jaringan ginjal.
Selain itu, penyakit ginjal polikistik merupakan kelainan genetik yang menyebabkan pertumbuhan kista di ginjal. Seiring waktu, kista dapat mengganggu fungsi organ tersebut.
Orang yang memiliki keluarga dengan riwayat penyakit ginjal tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kebutuhan pemeriksaan dan pemantauan sejak dini.
Apa Saja Gejala Awal Gagal Ginjal?
Penyakit ginjal kronis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang bisa tetap merasa sehat meskipun fungsi ginjalnya mulai menurun.
Ketika gangguan semakin berat, beberapa keluhan berikut dapat muncul:
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau sekitar mata.
- Perubahan frekuensi atau jumlah urine.
- Urine berbusa akibat peningkatan protein dalam urine.
- Tubuh mudah lelah dan sulit berkonsentrasi.
- Mual, muntah, atau kehilangan nafsu makan.
- Kulit terasa gatal tanpa penyebab yang jelas.
- Sesak napas akibat penumpukan cairan atau komplikasi lainnya.
Gejala tersebut tidak selalu menunjukkan gagal ginjal karena kondisi lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Jika seseorang mengalami sesak napas berat, kebingungan, nyeri dada, atau urine sangat sedikit secara mendadak, segera cari pertolongan medis.
Bagaimana Cara Mencegah Gagal Ginjal?
Tidak semua penyebab gagal ginjal dapat dicegah. Namun, beberapa langkah dapat membantu menjaga fungsi ginjal dan menurunkan risiko kerusakan.
Pertama, kendalikan diabetes dan tekanan darah sesuai target yang dokter sarankan. Kedua, konsumsi makanan bergizi seimbang dan batasi garam berlebihan. Ketiga, lakukan aktivitas fisik secara rutin serta hindari kebiasaan merokok.
Selanjutnya, minum sesuai kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan. Hindari penggunaan obat atau suplemen sembarangan, terutama produk yang tidak memiliki informasi kandungan yang jelas.
Orang yang memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau riwayat penyakit ginjal perlu menjalani pemeriksaan berkala. Dokter dapat menyarankan tes kreatinin darah, perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR), dan pemeriksaan urine untuk menilai fungsi ginjal.
Gagal ginjal tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, kerusakan berkembang secara bertahap akibat penyakit yang berlangsung lama. Dengan mengenali faktor risiko, mengendalikan penyakit penyerta, dan menjalani pemeriksaan sesuai kebutuhan, seseorang dapat meningkatkan peluang mendeteksi gangguan ginjal lebih awal dan memperoleh penanganan yang tepat.
Baca juga: Pentingnya Rutin Memeriksa Tekanan Darah dan Kolesterol

